AMI Medan Gelar Ujian Keahlian Pelaut (UKP) Berbasis CBA


Akademi Maritim Indonesia (AMI) Medan untuk pertama kalinya menggelar Ujian Keahlian Pelaut (UKP) secara mandiri berbasis komputer atau Computer Based Assesment (CBA). Ujian ini diikuti Prala maupun Pascaprala yang dilangsungkan pada tanggal 13 hingga 14 November 2017.

Peserta ujian kompetensi ini diikuti Jurusan Nautika dan Teknika sebanyak 240 orang. Hal ini dilakukan dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan di akademi kemaritiman.

“Ini merupakan babak baru bagi AMI Medan yang merupakan akademi maritim swasta satu-satunya di Pulau Sumatera yang sudah memperoleh Approval dari Dirjend Perhubungan Laut sebagai penyelenggara pendidikan kelautan,“ kata Direktur AMI Medan, Capt. Dafid Ginting, M.Mar, M.Si, Rabu (22/11) di Kampus AMI Medan jalan Brigjend Bejo d/h Pertempuran No. 125 Pulo Brayan Medan.

Ia mengatakan, proses UKP mandiri dengan sistem CBA ini adalah pertama digelar di kampus AMI Medan yang selama ini dilakukan oleh Dewan Penguji Keahilan Pelaut (DPKP) di Jakarta. Dengan system ujian berbasis CBA, proses UKP berjalan lebih cepat dan efisien karena semua sudah sistem komputerisasi.

“Begitu ujian selesai digelar, tidak menunggu waktu lama bisa langsung diketahui nilai yang diperoleh peserta UKP. Jadi bisa dilihat mana yang lulus, mana yang tidak. Mata ujian kompetensi mana yang lulus dan yang harus mengulang segera diketahui. Yang menarik perubahannya adalah sistem yang transparan. Hasil ujiannya juga dikoreksi secara komputerisasi,“ jelasnya.

“Semua benar-benar transparan dan tidak ada rekayasa nilai,”ungkapnya.

Lebih jauh, Dafid menjelaskan, AMI Medan dibawah bimbingan Ketua Pembina Yayasan Dr. Yuris Danilwan, SE, M.Si, untuk memenuhi standar yang ditetapkan Standards of Trainning Certification and Watchkeeping (STCW) Amandemen Manila 2010, AMI Medan juga telah melengkapi sarana dan prasarana pendidikan. Diantaranya Full Mission Bridge Simulator yang terkoneksi dengan Full Mision Engine Room Simulator.

“Karena efektif mulai 1 Januari 2017 pelaut berijazah dibawah ketentuan STCW tak diizinkan berlayar. Karenanya AMI Medan terus melakukan penyesuaian agar alumninya siap pakai di lapangan kerja,”ujar Capt. Dafid.

AMI Medan juga bekerja sama dengan Seagull Singapore dalam pengadaan CBT. Jadi, setiap tahun taruna yang kuliah di AMI Medan bisa mengakses langsung materi-materi yang ada, dan hasil pembelajaran dari taruna terekap/terdata dengan baik.

“Jadi aktivitas taruna dapat dipantau dalam pembelajaran karena setiap taruna memiliki Username dan Password masing-masing,” pungkasnya.

Ketua Pembina Yayasan Dr. Yuris Danilwan, SE, M.Si  menambahkan, AMI Medan akan terus melengkapi sarana dan prasarana pendidikan sehingga mendapat pengakuan dari International Maritime Organization (IMO) dan menjadikan AMI Medan sebagai pusat pendidikan dan latihan calon perwira pelayaran niaga yang professional dan bertaraf internasional. (sugiatmo)